Tradisi Angngaru(Ikrar Sumpah Setia) Yang Hampir Hilang,Serta Contoh Dan Maknanya

Jendela Seni- kali ini akan berbagi mengenai salah satu tradisi yang dilakukan pada masa kerajaan di Suku Bugis dan Makassar yaitu Angngaru,pada masa kerajaan Gowa, bagi para prajurit yang akan melaksanakan tugasnya, akan melaksanakan pengucapan ikrar (aru) dihadapan atasannya Sombayya (yang disembah). Pengucapan sumpah setia ini disebut "Angngaru", sedangkan orang yang mengucapkannya disebut "Tubarani" (sang pemberani).  Ikrar ini sebenarnya tidak hanya berlaku dilingkungan para prajurit, tetapi dilakukan juga oleh Raja dihadapan rakyatnya, abdi kerajaan kepada rajanya, atau  masyarakat kepada pemerintahnya. Para pejabat yang baru diangkat, sebelum melaksanakan tugasnya, diharuskan mengangkat sumpah bahwa ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjunjung tinggi kemuliaan Rajanya.


"Aru" atau sumpah yang diucapkan itu, bertujuan memotivasi para abdi negara dalam mewujudkan cita-cita yang ingin dicapai oleh Kerajaan. Isi sumpahnya mengandung janji setia untuk berjuang mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan tak akan mundur atau menyerah sebelum mati. Pada saat sang prajurit mengucapkan sumpahnya dihadapan Raja, ia mengambil posisi berlutut dengan badan tegap, tangan kanan memegang badik yang terhunus, dan wajah yang menatap ke arah depan dengan mantap dan keteguhan hati untuk tetap setia kepada sang Raja. Janji setia diucapkan dengan lantang dan dengan berani menatap wajah sang Raja.


Tradisi Angngaru(Ikrar Sumpah Setia) Yang Hampir Hilang,Serta Contoh Dan Maknanya
Berikut ini adalah contoh teks angngaru:
Biimillahi Rahmani Rahim

Atta…karaeng (sungguh…karaeng) 
Tabe’ kipammoporang mama’ (Permisi maafkanlah aku) 
Ridallekang labbiritta (diharibaanmu yang mulia)
Risa’ri karatuanta (di sisi kebesaranmu)
Riempoang matinggita (di tahtamu yang agung) 
Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng) 
Lambara tatassallanna Gowa (satria dari tanah Gowa) 
Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak) 
Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena) 
Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak) 
Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang) 
Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua) 
Tamappatojengi tojenga (yang ‘tak membenarkan kebenaran) 
Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya) 
Kusalagai siri’na (kuhancurkan tempatnya berpijak) 
Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya) 
Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) 
Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan) 
Ikau anging karaeng (engkau ibarat angin karaeng) 
Naikambe lekok kayu (aku ibarat daun kayu) 
Mirikko anging (berhembuslah angin) 
Namarunang lekok kayu (ku rela gugur bersamamu) 
Iya sani madidiyaji nurunang (hanya yang kuning gugurkan) 
Ikau je’ne karaeng (engkau ibarat air karaeng) 
Naikambe matang mamayu (aku ibarat batang kayu) 
Solongko je’ne (mengalirlah air) 
Namamayu batang kayu (ku rela hanyut bersamamu) 
Iya sani sompo bonangpi kianyu (di air pasang kami hanyut) 
Ikau jarung karaeng (engkau ibarat jarum karaeng) 
Naikambe bannang panjai (aku ibarat benang jahit) 
Ta’leko jarung (menembuslah jarum) 
Namminawang bannang panjai (aku akan ikut bekas jejakmu) 
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng (hanya mengikuti kebenaran) 
Makkanamamaki mae karaeng (bersabdalah karaeng) 
Naikambe mappajari (aku akan berbuat) 
Mannyabbu mamaki mae karaeng (bertitahlah karaeng) 
Naikambe mappa’rupa (aku akan berbakti) 
Punna sallang takammayya (bila nanti janji tidak kutepati) 
Aruku ri dallekanta (sebagaimana ikrarku di depanmu) 
Pangkai jerakku (pasak pusaraku) 
Tinra bate onjokku (coret namaku dalam sejarah) 
Pauwang ana’ ri boko (sampaikan pada generasi mendatang) 
Pasang ana’ tanjari (pesankan pada anak-cucu) 
Tumakkanayya karaeng (apabila hanya mampu berikrar karaeng) 
Natanarupai janjinna (tapi tidak mampu membuktikan ikrarnya) 
Sikammajinne aruku ri dallekanta (demikian ikrarku dihadapanmu) 
Dasi nadasi nana tarima pa’ngaruku (semoga Tuhan mengabulkannya) 
Salama…(amin…)


"Mangngaru atau angngaru ini sebenarnya masuk dalam katagori fisikologi sastra.
Karena didalam teks mangngaru lebih mengarah pada kejiwaan dan emosional.Dan orang yang berperan untuk mangngaru biasanya bersuara lantang dan gumamnya itu biasanya membuat orang merinding dan membuat orang semangat. Filosofi mangngaru sendiri adalah bagaimana seorang prajurit gagah berani yang ingin ke medan perang, menggumamkan sumpah setia atau ikrarnya kepada rajanya untuk penuh semangat pergi berperang dan tidak akan berpaling dari peperangan walau nyawa taruhannya".

Demikianlah artikel kali ini yang mengulas tentang Tradisi Angngaru(Ikrar Sumpah Setia) Yang Hampir Hilang,Serta Contoh Dan Maknanya,semoga dapat bermanfaat serta menginspirasi teman-teman sekalian untuk bersama-sama menjaga serta melestarikan kebudayaan lokal,sekian dan terimakasih dan jangan lupa di share.ars longa vita brevis
Tradisi Angngaru(Ikrar Sumpah Setia) Yang Hampir Hilang,Serta Contoh Dan Maknanya Rating: 4.5 Diposkan Oleh:Khaerul USB info masuk

No comments:

Post a Comment